Metro Koran

Beranda » Metro Bengkulu » Telan Korban, Walhi Analisis Amdal PTPN VII

Telan Korban, Walhi Analisis Amdal PTPN VII

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 555 pengikut lainnya

Metro Koran

Ikuti saya di Twitter

Arsip


Telan Korban, Walhi Analisis Amdal PTPN VII
BENGKULU (METRO) – Ironis, ada sebuah kasus sangat menyedihkan baru-baru ini terjadi di Provinsi Bengkulu. Seorang anak meninggal dunia setelah tercebur ke dalam kolam limbah milik PTPN VII Bengkulu. Kasus ini menarik perhatian Wahana Lingkungan Hidup Indonsia (Walhi) daerah itu untuk melakukan analisis AMDAL perusahaan milik negara tersebut.01
“Terkait kasus ini, kami akan menganalisis dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) PT Perkebunan Nusantara VII di Kabupaten Seluma. Kini kami masih menganalisis dokumen Amdal PTPN VII dan kondisi di lapangan, karena sepekan setelah meninggalnya seorang anak akibat tercebur ke kolam limbah, belum ada pemagaran,” kata Direktur Walhi Bengkulu, Beny Ardiansyah kepada antara, Kamis.

Ia mengatakan setelah melakukan analisis tersebut, pihaknya akan menentukan sikap, apakah akan dilakukan gugatan terhadap PTPN VII. Selain itu, kata Beny, kasus terceburnya seorang anak ke dalam kolam limbah PTPN VII hingga meninggal dunia harus disikapi pemerintah dengan mengevaluasi Amdal perusahaan itu.

“Kami menyesalkan tindakan pemerintah yang sama sekali tidak melakukan evaluasi terhadap pengelolaan Amdal PTPN VII, karena bukan tidak mungkin kejadian serupa akan terulang,” ujarnya.

Sebelumnya seorang anak, Wati (8) warga Desa Nantiagung Kecamatan Ilir Talo, Seluma, tercebur ke kolam limbah PTPN VII Unit Usaha Talo Pino, hingga tubuhnya melepuh. Wati tercebur ke kolam limbah saat mencari sayuran bersama ibunya di sekitar kolam limbah itu.

Anggota DPRD Seluma asal Dapil III Talo, Ulul Umidi mengatakan, seharusnya perusahaan memasang pagar dan peringatan di sekitar kolam limbah. “Perusahaan seharusnya memberlakukan prosedur standar dengan memagar dan memasang tanda peringatan,” katanya. Apalagi, kata dia, kolam limbah tersebut masih panas dan memiliki suhu mencapai 60 derajat Celcius, dan sangat membahayakan.

Direktur PTPN VII Talo-Pino Yuli Hananto mengatakan selama 25 tahun berdirinya PTPN VII belum ada kejadian seperti yang menimpa Wati. “Dulunya sudah ada pagar tapi roboh, setelah dilakukan pendalaman sumur limbah tersebut,” katanya sembari menyatakan bahwa pihaknya bertanggung jawab atas kejadian yang menimpah korban Wati tersebut.

“Agar kejadian serupa tidak terulang lagi, kami akan memasang lagi pagar pembatas di dua kolam dari 13 kolam limbah yang ada di kawasan pabrik PTPN VII tersebut,” katanya berjanji. (ms)

 

Flag Counter

Blog yang Saya Ikuti

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Denna Mitra Indonesia

Layanan Bantuan Perumahan, Konsultasi Dan Pusat Informasi Perumahan (Dmi Property Agency)

Metro Koran

Berita Seputar Bengkulu dan Indonesia, Fakta Itu Nyata

Ilmu Hukum

Berbagi Penyelesaian Masalah Untuk Anda

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: